About Me

Foto saya
Sukabumi, Jawa Barat, Indonesia
Perempuan sederhana yang penuh dengan kesederhanaan, sampai-sampai apapun serba sederhana. Cukup. Terimakasi.

Jumat, 18 Oktober 2013

Triangle Series Part 1

Triangle 1
#Aku menemukan jawabannya disini (Sapta) (Jatinangor, 17 Agustus 2012 20.00 wib)

Rumah sederhana yang selalu tampak hangat. Tumpukan gelas yang disusun menyerupai piramida tampak membuat mewah tatanan ruang yang berukuran 5x6 meter itu. Diciumnya tangan halus wanita paruh baya itu dengan penuh kasih sayang, tangan yang dahulu selalu setia memegang kapur putih untuk memberikan pelajaran-pelajaran sekolah, jiwa yang tak mengenal rasa lelah untuk mengurusi 40 murid dengan watak yang berbeda. Ia, itulah Bu Eva guru terbaik yang pernah Sapta kenal. 3th sudah Sapta dan teman-temannya tidak pernah berkesempatan untuk menemui Ibu Eva secara bersama-sama. Dan kesempatan itu datang pada saat ini, tepat pada hari ini beliau berulang tahun yang ke 46th.
“sehat bu?” Tanya Sapta
“Alhamdulillah Ibu sehat Sapta, ayo ayo duduk didalam” pinta Bu Eva lembut.
Sapta memisahkan diri dari teman-temannya. Berjalan keluar dan bersandar pada sebuah tiang penyangga yang ada diteras rumah itu. Sapta melipatkan kedua tangan diatas dadanya. Sesekali matanya yang sipit mengamati jalanan yang sepi.
“kenapa angin malam ini begitu dingin” gumam Sapta. 
“Sapta, masuk sini” Panggil bu Eva.
“iya bu” jawab Sapta sambil berjalan masuk kedalam rumah.
Disetiap sudut ruangan itu didapati kumpulan-kumpulan atau kelompok-kelompok kecil yang asik berbincang mengenai kesibukan mereka, tidak terkecuali Sapta. Sapta kembali berkumpul dengan teman dekat semasa SMAnya, seperti Ade dan Annas mengingat dahulu meraka selalu bersama-sama dan berakhir dengan julukan TrioASA. Keasikan TrioASA terus berlanjut sampai akhirnya tawa Sapta terhenti ketika seseorang menyebutkan nama “Gina”.
Mata Sapta memperhatikan kesetiap sudut ruangan. Dan benar, ada satu orang yang belum datang. Gina. Hatinya mulai bertanya-tanya, apa dia tidak datang. Ingin sekali Sapta menanyakan ini pada Shipa sahabat dekat Gina, tapi egonya membuat Sapta enggan bertanya hal itu. Sapta mencoba menenangkan fikirannya seolah tidak mendengar, tapi nyatanya, otak kanannya memecah konsentrasi fikiran Sapta pada dua hal, rasa keingintahuan yang berbanding terbalik dengan gengsinya, dan membuat dia terus memperhatikan kearah pintu masuk.
Bu Eva yang sadar, sebuah mobil terparkir dihalaman depan rumahnya langsung berjalan keluar.
Fikiran Sapta semakin kacau seperti kumpulan atom-atom sempurna yang terurai kembali karena teroksidasi atom dari zat lain, lagi-lagi gengsinya harus kalah dengan keingintahuannya melihat siapa yang ada dalam mobil itu.
Seorang pria keluar dari dalam mobil bejalan santai menuju pintu mobil yang lain dan membukakan pintu untuk seseorang yang ada di dalamnya.
Sepatu sandal berwarna hitam dengan gaun pendek berwarna merah muda dan berbalut blezer putih dengan rok hitam yang dikenakan wanita itu membuatnya tampak anggun. Olesan lipglos yang tipis membuat kecantikan alaminya semakin terlihat. Gina telah menjadi pusat perhatian teman-temannya malam ini.
Gina dan Indra menghampiri Bu Eva yang berdiri tersenyum atas kedatangan mereka berdua, mengambil tangan hangat wanita paruh baya itu untuk diciumnya dengan lembut.
“maaf bu, Gina telat. Tadi kita nyari ini dulu” senyum Gina tulus sambil memberikan bingkisan itu dengan hati-hati. “selamat ulang tahun ia bu” tambah Gina sungguh-sungguh.
Indra, pria yang datang bersama Gina langsung pamit setelah sampai mengantar Gina ditempat itu. Bu Eva menggandeng tangan Gina untuk masuk dan bergabung dengan teman-teman yang lain didalam. Shipa yang sudah menunggu lama sontak langsung memeluk Gina dengan penuh kerinduan ketika Gina akan menghampirinya. Kehebohanpun tidak berhenti. Kebiasaan para wanita ketika  bertemu dan berkumpul dengan teman lama adalah membicarakan semua persoalan, baik hal sekecil apapun, sepenting apapun, segeger apapun, sememalukan apapun, semua hal dibicarakan. Bahkan Gina tidak sadar sedang diamati Sapta.
“siapa pria itu” lirih Sapta dalam hati, semakin Sapta memutar otaknya untuk berfikir semakin dia tidak menemukan jawabannya. Sorotan mata yang mengisyaratkan luka terus memandangi Gina dari kejauhan. Sesekali Sapta mencubit keras kulit tangan berharap tidak merasakan sakit apapun tapi ini nyata bukan mimpi. Sakit yang dirasakan tangan Sapta tidak seberapa di bandingkan dengan ia harus terus mengingat siapa orang yang mengantar Gina. Lama Sapta berfikir untuk menanyakannya langsung pada Gina. Untuk berdiri menghampirinya pun rasanya tak sanggup. Ketika tangannya harus terkepal dengan kuat mencari kekuatan dan keberanian menanyakan ini pada Gina, Sapta tetap tidak bisa menyembunyikan rasa keingintahuannya. Dengan langkah yang pasti Sapta menghampiri Gina.
“Gin..” suara Sapta tertahan seketika, ketika Gina melihat kearah wajahnya.”boleh kita bicara sebentar diluar” ucapa Sapta kemudian.
Gina berfikir sejenak, kemudian menggigiti kuku ibu jarinya, satu tangan yang lain terus terkepal. Lama. Sampai akhirnya Gina berdiri dan berjalan pelan ke luar. Gina yang membuang pandangannya ke sudut jalan yang sepi, lalu memikirkan hal ini seharusnya tidak pernah terjadi, pertemuan singkat, tegursapa yang sewajarnya, harusnya itu yang terjadi dan tidak seperti ini. Matanya mulai berkaca-kaca “seharusnya ini gak terjadi” ucap Gina dalam hati.
Guratan abstrak berupa petanyaan banyak terlukis di wajah Sapta, walau dia terus diam tapi hatinya berbicara, bahkan meminta sebuah jawaban pasti yang akan menjawab semua pertanyaan dalam fikiran Sapta selama ini.
“Beri aku sebuah alasan, kenapa kamu gak pernah balas pesan yang aku kirim Gin?”
Gina yang terhanyut dalam fikirannya, langsung mendongakkan kepala ketika Sapta melontarkan petanyaan itu, jantungnya berdegup kencang, rasanya ingin cepat saja Gina melarikan diri dari hadapan Sapta.Gina berusaha mencari alasan yang baik untuk diberikan kepada Sapta, memerintahkan partikel otak berotasi difikirannya untuk mencari, mencari, dan mencari sebongkahan senyawa alasan.
Melihat sikap Gina seperti itu Sapta kembali melontarkan sebuah pertanyaan, jawaban dari pertanyaan terakhirnya ini akan menjadi jawaban mutlak untuk segala hal. “Siapa… Orang yang barusan nganterin kamu?”
Gina tak sanggup menjawab pertanyaan itu, dia mencoba mengalihkan pandangannya kemanapun, tangannya terkepal seolah mencari kekuatan untuk dapat pergi dari tempat ini.
“tolong jawab Gin…!” lirih Sapta dengan nada memohon
Gina tak sanggup menahan air matanya yang hampir jatuh, dia membalikkan badannya membelakangi Sapta dan berjalan pergi meninggalkan Sapta, tau hal ini akan terjadi Sapta menarik tangan Gina. “aku mohon, jawab Gin” pinta Sapta kembali.
Dulu, tangan Sapta yang lembut akan terasa hangat ketika menggenggam tangan Gina, tapi tidak untuk kali ini. Tangannya dingin, sangat dingin. Gina diam, bibirnya gemetar tak sanggup untuk menjawab, air matanya perlahan jatuh membasahi wajahnya yang mulai memerah. Gina memejamkan matanya, menguatkan hatinya yang lemah untuk sanggup memberikan jawaban yang Sapta tunggu, dengan segenap kekuata yang tak banyak dia miliki, dia mulai berbicara walau dengan suara yang terbata-bata.
“dia Indra… Tunanganku ta…”
Nafas panjang Sapta memaksanya untuk mengendurkan genggaman tangannya perlahan… sampai akhirnya terlepas.Sapta tidak bisa menyembunyikan rasa kekecewaan dan sakit ini, jika ada yang melihatnya saat ini, rasanya mereka akan dapat menebak dengan benar, Sapta sedang kecewa, kecewa yang amat sangat dalam. Sapta berjalan gontai meninggalkan Gina yang diam terpaku disana tanpa berbicara sepatah kata apapun.
Melihat punggung Sapta yang semakin menjauh, Gina menangis.
***
Acara malam ini berjalan dengan baik, tapi tidak untuk Sapta.Sapta duduk menyendiri disudut ruangan, menekuk kedua lututnya dan menatap kosong kearah meja yang penuh dengan tumpukan bingkisan.Sapta bahkan tidak sadar sebagian teman-temannya sudah berpamitan untuk pulang.
Bu Eva yang menyadari itu, meminta Ade dan Annas tetap tinggal untuk menemani Sapta dirumahnya malam ini.
“lebih baik nangis disini, dari pada dirumah” ucap bu Eva lembut dengan gurauan yang khasnya. Tangannya yang lembut dan penuh kasih sayang itu menggusap kepala Sapta dengan hati-hati.Sapta hanya menekukkan kepalanya dalam-dalam, suara nafasnya terdengar tidak beraturan, dan akhirnya Sapta menangis.
“setiap ada pertemuan pasti ada perpisahan, ketika kita memutuskan untuk mencintai seseorang, kitapun harus siap menerima, jika orang yang kita cintai itu akan lebih berbahagia jika tidak bersama kita” Bu Eva merangkul Sapta dengan penuh kasih sayang , benar. Ini akan sangat berat sekali untuk Sapta terima karena sejak SMA Sapta dan Gina selalu bersam-sama sebagai kekasih.
Semenjak hari kelulusan SMA. Hubungan Sapta dan Gina memang selalu mengalami pasang surut, mengingat Sapta yang melanjutkan kuliah  Teknik Komputer di Universitas Pendidikan Indonesia Bandung dan Gina membantu ibunya mengajar di yayasan sekolah yang didirikan oleh keluarganya di Sumedang. Karna kesibukan itulah hubungan merka berakhir.
“sabar ta, ada kebahagiaan yang akan menanti lo kok” hibur Ade
Sapta hanya menganggukan kepalanya, mencoba mendongakkan kepala dan tersenyum.Sebenarnya Ade, Annas, Bu Eva, bahkan semuanya, kecuali Sapta sudah mengetahui prihal pertunangan Gina dengan Indra. Tapi akan lebih tepat rasanya jika Sapta tau langsung dari Gina.


Bandung, 19 september 2012
21.50 wib

Tidak ada komentar: